Kisah Observatorium Pertama di Indonesia, Dibangun di Batavia Tahun 1765 dan Kini Hilang Tak Tersisa

Better experience in portrait mode.
sejarah batavia

Rupanya Bosscha bukan satu-satunya obervatorium yang pernah berdiri di Indonesia.

Mayoritas masyarakat Indonesia menganggap Bosscha sebagai observatorium tertua di Indonesia. Sampai sekarang observatorium ini masih aktif digunakan sebagai lokasi pengamatan dan penelitian pusat tata surya di Indonesia.

Letaknya berada persis di dataran tinggi Bandung yang kerap dijadikan sebagai lokasi wisata.

Rupanya Bosscha bukan satu-satunya obervatorium yang pernah berdiri di Indonesia. Usut punya usut, satu setengah abad sebelumnya sudah pernah berdiri Observatorium Mohr di wilayah Batavia.

Lokasi ini pun dipercaya sebagai pusat penelitian astronomi pertama dan terawal yang pernah didirikan di tanah jajahan nusantara. Gedungnya juga megah, dengan desain modern di masanya. Namun sayang, keberadaannya kini sudah tidak diketahui dan lenyap seiring berjalannya waktu. 

Sosok Pendiri Observatorium Mohr

Adalah Johan Maurits Mohr, seorang pendeta dan tokoh astronomi keturunan Belanda-Jerman yang membidani lahirnya obervatorium pertama di Indonesia itu. 

Kala itu, pada 1761, Mohr muda yang baru menempati Batavia mendapat tugas menjadi asisten pengamat transit venus oleh tim Belanda, Gerrit de Haan yang juga kepala departemen pemetaan VOC, dan Pieter Jan Soele yang merupakan salah satu kapten kapal VOC. 

Merujuk laman Kafe Astronomi, momen antariksa tersebut terbilang jarang terjadi dan hanya bisa dilihat di tempat-tempat tertentu. Ini membuat para ahli astronomi berlomba untuk melakukan pengamatan dan penelitian secara jelas untuk mengungkap fenomenanya.

Suksesnya Pengamatan Transit Venus dan Berdirinya Observatorium Mohr

Bermodalkan alat pengamat sederhana berupa teleskop reflektor Gregorian, masing-masing dengan panjang fokus 46 cm dan 68 cm, dilengkapi oktan London dan beberapa jam saku yang telah dikalibrasi, pergeseran planet venus itu terlihat cukup jelas dan tanpa gangguan.

Ini didukung cuaca yang cerah dan minim gangguan di angkasa. Selain itu, kesuksesan pengamatan juga didukung letak posisi pantau yang dianggap strategis di sebidang tanah kosong milik Mohr.

Keberhasilan ini kemudian dimanfaatkan Mohr untuk merinci laporan pengamatan, dan membuat catatan-catatan penting tentang pengamatan.

Ia lambat laun mulai fokus di bidang pengamatan rasi bidang hingga berniat mendirikan obervatorium di tanah kosong yang ia miliki.

Dibangunnya Observatorium Mohr Tahun 1765

Setelah mertuanya wafat, ia mendapat dana warisan sebanyak ratusan ribu Gulden yang kemudian uangnya ia pakai untuk memenuhi ambisinya membangun observatorium pribadi.

Pembangunan berjalan selama beberapa tahun, dengan dana sebesar 200.000 gulden atau setara Rp82 miliar lebih. Ketika itu peralatan modern sudah digunakan, dan didatangkan secara bertahap sampai tahun 1767.

Salah satu alat yang digunakan adalah teleskop reflektor Gregorian buatan Dollond (Inggris) yang memiliki panjang fokus 107 cm. Alat ini mampu menjangkau langit utara dan selatan termasuk segala penjuru Batavia. Rencananya, stasiun pengamatan akan digunakan untuk pengamatan transit venus berikutnya yang diperhitungkan terjadi pada 1769. 

Keberhasilan Menangkap Transit Venus 1769

Sejak sebelum pukul 7, para ahli sudah berkumpul di bangunan megah milik Mohr. Mereka ingin membantu menyukseskan pengamatan transit venus yang ke dua kalinya. Mohr sempat khawatir lantaran cuaca pagi itu tampak mendung.

Beruntung pukul 08.00 pagi, awan hitam mulai menghilang sehingga pengamatan bisa dilanjutkan. Antara pukul 08.00 sampai 08.20, cuaca mulai cerah dan puncak di pukul 08:30:13 sampai 08:30:31 transisi venus terlihat cukup jelas.

Bundaran hitam yang menutup matahari termati dengan tanpa gangguan. Mohr dan timnya amat beruntung karena pengamatannya cukup mencapai harapan. Bangunan observatorium itu kemudian jadi kian populer.

Jadi Bangunan Tertinggi di Batavia

Mengutip laman Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), bangunan observatorium itu menjadi bangunan termegah dan tertinggi di Batavia pada masanya. Mohr mendesainnya dengan enam lantai, dengan bagian atasnya yang diberi kubah dan fasad besar.

Di sana juga terdapat cermin pemantau berbentuk matahari, yang zaman dahulu digunakan untuk penentu kordinat.

Sayangnya, setelah Mohr dan istrinya meninggal, bangunan tersebut tidak terurus dan lapuk dimakan usia. Terlebih adanya gempa bumi di tahun 1800-an membuatnya hanya tersisa puing-puing.

Bangunan ini juga sempat dijadikan sebagai markas militer dan tempat persembunyian sampai bangunan benar-benar hilang.

Sisa Observatorium di Masa Sekarang

Menurut pengamat sejarah Candriyan Attahiyyat di kanal YouTubenya, diketahui bangunan tersebut saat ini sudah tidak tersisa.

Yang ada hanya bangunan Vihara Dharma Bakti yang dibangun di tahun yang sama.

Kawasan itu saat ini bernama Gang Torong 1 dan 2, yang konon penyebutannya berasal dari bahasa lokal Torong (merujuk ke Torenlaan) bangunan tinggi zaman Belanda.

Daerah sekitar observatorium juga sudah menjadi kawasan padat penduduk, dan kini menjadi daerah pecinan Glodok. 

Rekomendasi

jokowi

Jokowi Minta BRIN Jadi Orkestrator Penelitian Bersama Bappenas

“Saya akan memerintahkan kepada BRIN untuk jadi orkestrator penelitian, bersama Bappenas untuk merancang kebutuhan riset kita,” kata Jokowi

Baca Selengkapnya

Rekomendasi

Kawah Ijen

Tak Kalah Indah dari Kawah Ijen, Intip Pesona Sungai Kalipait Bondowoso Mengalir Membelah Hutan dan Tebing Batu

Airnya sangat jernih hingga membuat dasar sungai tampak jelas

Baca Selengkapnya

Rekomendasi

news update

Mengulik Suasana Ibadah Gereja Zaman VOC yang Bersejarah

Abad ke-17, Gereja Salib Batavia mencerminkan kemewahan dan kontras dengan panggilan rohaniah.

Baca Selengkapnya

Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasivideo untuk kamu.
SWIPE UP

Untuk melanjutkan membaca.

Rekomendasi

penembakan

Update Kondisi Relawan Prabowo-Gibran Korban Penembakan di Sampang

Tim dokter masih melakukan perawatan dan observasi terkait kemungkinan gejala sisa.

Baca Selengkapnya

Rekomendasi

Bangunan Cagar Budaya

Situs Batu Batikam, Lambangkan Pentingnya Perdamaian dalam Kehidupan Masyarakat Minangkabau

Lubang yang ada di Batu Batikam itu merupakan simbol dari perdamaian antar suku yang tengah berkuasa pada saat itu.

Baca Selengkapnya

Rekomendasi

Libur Akhir Tahun

Libur Akhir Tahun, 291 Ribu Lebih WNI Tinggalkan Indonesia

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta, menyiagakan 603 personel.

Baca Selengkapnya

Rekomendasi

Trending

Kereta Ini Tak Pernah Diharapkan Kehadirannya, Jika Keluar dari Sarangnya, Berarti Ada Hal Buruk Terjadi

Indonesia memiliki sebuah kereta yang kehadirannya sama sekali tidak diharapkan, jika kereta tersebut keluar, berarti sedang ada hal buruk yang terjadi.

Baca Selengkapnya

 

Updated: Januari 23, 2024 — 5:28 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *